Sedikit Tentang Masa Lalu

Berantakan. Mungkin itulah satu-satunya kata yang mampu aku deskripsikan saat ini. Disaat jiwaku sudah mulai kembali menemukan arah cahayanya, tiba-tiba kau datang kembali. Menghancurkan semua ruang yang sudah mulai kutata rapi. Mengacaukan hariku kembali. Mendzalimi hati lain.

Kau pasti sadar akan kehadirannya di hari-hariku kini. Bagaimana perjuanganku untuk membunuh bayangmu di pikiranku. Bagaimana sulitnya menerima separuh jiwa yang ia tawarkan padaku setelah hilangnya engkau. Lenyapnya engkau.

Memang bukan waktu yang singkat, bagiku untuk menerima kehadiran sosok baru. Memulai kembali kebiasaan-kebiasaan lama yang dulu kerap kita lakukan bersama, namun kini ku dengannya.

Bukan waktu yang singkat juga, antara kebersamaan kita. Antara detik-detik dekatnya detak jantung kita berdua. Saat kau ucapkan janji-janjimu dulu, kata-kata manismu dulu, sikapmu padaku. Dulu selalu kukatakan, bahwa kau satu-satunya untukku. Kemarin, hari ini, esok, dan seterusnya. Masih ingatkan engkau?

Aku bukan wanita yang mudah tergapai hatinya, terbawa sampai kepuncak. Jika kukatakan bahwa kau mampu melakukan itu, aku tak main-main bahwa kau adalah hal terindah yang pernah ku milikki.

Aku tak menyangkal bayangmu yang selalu menghantui malamku, mimpi indahku, langkahku bersamanya kini. Kadang masih kuberharap bahwa hanya tetap kau yang akan selalu disisi. Namun apa dayaku bila kau kini menganggapku tak ada?

Dia datang saat ku tak pernah percaya akan kata cinta yang selalu orang-orang sebutkan dalam doa mereka. Dia bangun kembali puing-puing reruntuhan jiwaku yang dulu kau hancurkan sesukamu. Dia menumbuhkan kepercayaanku, bahwa tak semua lelaki sepertimu. Hati yang dulu biru, kini mampu tertawa karenanya.

Andai saja dulu kau tidak mengambil resiko tersebut, mungkin sampai detik ini, hanya kaulah yang selalu di sini bersamaku. Aku sadar, apa yang semua kau lakukan semata untuk kebahagiaanku, tapi apakah kau sadar, bahwa kau adalah kebahagiaanku?

Kau terlalu baik untukku, kau lebih pantas dipertemukan dengan wanita yang jauh lebih baik dariku. Jauh lebih dapat mengerti keadaanmu dibandingkan aku. Kau layak mendapatkan wanita sempurna.

Tapi mengapa, bayanganmu masih terus berputar-putar di pikiranku?

Komentar