Kamu, Terima Kasih.

Ya, kamu. Pada akhirnya bertemulah kita pada titik ini. Pada akhirnya aku menemukan sosok dirimu. Pada akhirnyalah hatiku menentukan pilihan.

Tidak pernah kusangka akan begini jadinya. Tak sedikitpun terlintas dalam benakku kan begini akhirnya. Mengenalmu saja diriku sudah terlampau bahagia, apalagi bila hatimu memang benar untukku.

Kamu. Satu-satunya. Kamu satu-satunya yang bisa membuatku kembali merasakan apa yang dulu pernah ada. Apa yang sudah ku-kubur dalam-dalam. Kau yang menumbuhkan kepercayaanku lagi. Kepercayaanku tentang apa yang orang-orang sebut cinta

Kau tahu, mereka tahu. Bagaimana berartinya dia dulu dalam hidupku. Bagaimana rasa sakit yang pernah kurasakan. Bagaimana rasanya dicampakan. Dianggap mati. Dianggap sampah.

Kutaruh sejuta harapanku padamu. Berharap hanya kau-lah satu-satunya yang bisa kugenggam. Hanya kau yang bisa kutunggu. Juga kau yang akan selalu di sini.

Aku punya masa lalu. Begitu juga dengan dirimu. Kita sama-sama belajar. Kita sama-sama mengikhlaskan. Kita sama-sama perbaiki apa yang dulu telah dihancurkan mereka. 

Tidak mudah memang. Tidak mudah mendapatkan hatimu seutuhnya. Kini aku percaya pada kata orang bahwa yang terbaik kita dapatkan bukan dengan cara instan. Aku sangat setuju. Terlampau setuju.

Sadarkah kamu? Sejak lama aku sudah memperhatikanmu, walaupun dari jauh. Sedari dulu kau masih bersamanya. Aku tetap menunggu. Aku tetap yakin bahwa suatu saat nanti kau percaya bahwa hanya akulah yang bisa menggenggam tanganmu, yang bisa menjadi tulang rusukmu, wanita kedua yang kau cinta setelah keluargamu. Sampai nanti. Sampai mati. 

Aku tak peduli seberapa banyaknya wanita yang menggilaimu. yang memujamu. yang sangat ingin merebut posisiku. Aku sadar, aku masih jauh dari layak untuk bisa bersamamu. Bahkan untuk mencintaimu saja kurasa kumasih belum pantas, apalagi hidup bersamamu. Banyak wanita yang hanya tahu pesonamu, tapi hanya akulah yang tahu dibalik pesonamu. 

Detik demi detik aku lalui bersamamu. Senyuman demi senyuman kau persembahkan. Gelak tawa menghias hariku bersamamu. Pertengkaran-pun bumbui kehangatan kita. Marahmu, kesalmu, egomu, kini terasa nyatanya. 

Aku tahu hal kecil yang mungkin sudah kau lupakan. Pertama kali ku mendengar suaramu. Pertama kali tatap mata kita. Pertama kali perkenalan kita. Pertama kali kau mulai menghias hari-hariku dengan pesan-pesan singkat yang amat manis. Pertama kali kita saling merasakan ada yang berbeda. Pertama kali kita merasakan detak yang berbeda itu. Pertama kali kumelihatmu gugup melihatku. Menegangkan, namun membuatku semakin menggilaimu. 

Mungkin mereka menganggapku gila. Terlalu menaruh harap padamu. Namun apa salahnya dari insan yang amat biasa ini mencintaimu? 

Jika suatu saat nanti, kau menemukan titik jenuh padaku, ingatlah bahwa itu hanya sementara. Titik jenuh pasti akan kau temui. Tapi itu menunjukan bahwa sudah lama kita bersama. Ingatlah pertama kali kau merasakan detak jantungmu yang begitu hebatnya mengguncang. 

"Sebuah perahu tau mana tempat berlabuh paling nyaman untuknya, jika itu aku ya padaku lah kau akan berlabuh."

Terima kasih telah datang kehidupku. Membawa krayon kebahagiaan yang telah kulupa akan warna warninya. Membawa bunga-bunga yang pernah layu dan nyaris mati. Membangunkan duniaku yang pernah runtuh. Mencintaiku layaknya ku adalah setengah jiwamu. Membuatku merasakan bagaimana rasanya diperjuangkan. Terima kasih. 

Bila ku tak bisa membuatmu terus tersenyum, pegang janjiku, aku tak akan membuatmu sedih. 

Maaf bila aku belum dan mungkin tak akan bisa menjadi seperti yang kau mau. Maaf bila ku bukan sesosok wanita yang bisa kau bangga-banggakan di depan temanmu. Bukan sesosok wanita yang kau harapkan dari dulu. Sesosok wanita yang tiba-tiba datang kehidupmu. Mengacaukan hari-hari indahmu dulu. Aku sadar aku masih jauh dari pantas untuk bisa bersamamu. Maaf, aku tak sempurna untukmu. Namun yang patut kau ketahui, aku mencintaimu. Layaknya dunia membutuhkan alam semesta. Layaknya rumah membutuhkan pondasi. Layaknya tubuhku ini membutuhkan jantung. Layaknya bintang-bintang membutuhkan galaksi. Karena yang kutahu, kau adalah rumah bagiku, sejauh-jauhnya aku terbang, sejauh-jauhnya aku berlayar, sejauh-jauhnya aku berpetualang, hanya dirimu lah yang membuatku nyaman. Entah sampai kapan. Tapi yang ku-mau, aku ingin menghembuskan nafas terakhirku dengan menggenggam tanganmu. Biarkan kuhabiskan nafas terakhirku agar kau tahu, kau adalah nafasku. 

Komentar

Posting Komentar

Tulis komentar yang penting-penting aja. Kalau bisa jangan sosoan ngelucu atau pinter di blog saya. Nanti malu sendiri loh.