Cast by :
Mochammad Aulia as Soekarno
Lukmanul Hakim as Mochammad Hatta, Tenno Haika, & Jendral Kuniaki
Jasmine Alya Pramesthi as Chaerul Saleh, Sayuti Melik, & Fatmawati
Kiki Novatiani Supriadi as Soepomo, Soekarni, & Maeda
Resandy Dwi Rahmat as Nishimura, Radjiman Wedyodinigrat, & Suhud
Dina Marina Yustiana as Latief, Terauchi, & Wikana
Serafina Dara Firdaus as Darwis, Tentara Jepang 1, & Yusuf Kunto
Muhammad Farid as Ahmad Soebarjo, Tentara Jepang 2, & Syodanco Singgih
“BENTANGKAN SANG SAKA MERAH PUTIH”
Pada tahun 1940-an terjadi perang Pasifik, yaitu perang pembalasan dendam oleh Sekutu yaitu Amerika kepada Jepang. Peperangan tersebut terjadi hingga terjadi pertumpahan darah yang besar-besaran, dan berujung kepada kekalahan Jepang. Pada tahun 1944, keadaan Jepang pun terdesak dan pada tanggal 7 September 1944..
Jendral Kuniaki :“Kita harus menyelesaikan peperangan ini. Apabila terus seperti ini, kita akan kalah sebentar lagi. Tidak mungkin bagi kita untuk melawan PETA dan Sekutu sekaligus.”
Anggota Rapat :“Kita harus membuat perjanjian kepada salah satunya. Bagaimana jika kita memberi janji kepada kemerdekaan kepada Indonesia? Setidaknya agar mereka dapat berhenti menyerang kita, dan mungkin dapat membantu kita.”
Jendral Kuniaki :”Baiklah, kita harus melakukannya.”
Akhirnya jendaral Kuniaki pun mengumumkan bahwa Hindia Timur berhak merdeka. Letnan Jendral Kumakici Harada pun meyakinkan Indonesia tentang kemerdekaan yang dijanjikan tersebut, yaitu dengan pembentukan BPUPKI.
Tanggal 29 Mei..
Moh. Yamin :”Saya mempunyai usul mengenai dasar negara kita.
Bagaimana jika yang pertama, Peri Kebangsaan. Kedua, Peri Kemanusiaan. Ketiga, Peri Ketuhanan. Keempat, Peri Kerakyatan. Dan yang terakhir Kesejahteraan Rakyat”
Dr. Radjiman :”Boleh juga usulmu. Tapi harus kita dengar usul yang lain terlebih dahulu.”
2 hari kemudian…
Mr. Soepomo :” Saya mempunyai usul yang lain. Bagaimana jika 1. Persatuan, 2. Kekeluargaan, 3. Keseimbangan lahir dan batin, 4. Musyawarah, 5. Keadilan Rakyat”
Dr. Radjiman :”Saya suka idemu, bagaimana jika itu saja dasar negara kita?”
Ir.Soekarno :” Saya belum memberi usul.
Bagaimana jika saya memberi usul itu esok hari sekaligus saya akan memberi nama dasar negara itu?”
Dr. Radjiman :”Baiklah..”
Keesokan harinya…
Ir. Soekarno :”Saya mempunyai usul atas nama dasar negara kita.
Yaitu adalah Pancasila, yang berarti Panca itu 5 dan sila itu dasar. Jadi dasar negara kita itu terdiri dari 5 dasar. Kemudian 5 dasar itu terdiri dari 1. Kebangsaan Indonesia, 2. Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan, 3. Mufakat atau Demokrasi, 4. Kesejahteraan Indonesia, 5. Ketuhanan yang maha esa.”
Akhrinya dibentuklah panitia kecil yang berfungsi untuk menampung segala usulan mengenai dasar negara. Setelah itu, dibentuklah Panitia Sembilan dan mereka melanjutkan percakapannya..
Moh Hatta :”Kita telah mendapatkan dasar negara kita.
Tapi, bagaimana cara kita mempublikasikannya?”
Ahmad Soebardjo :”Bagaimana jika kita membuat suatu piagam?”
Moh Yamin :”Ya saya setuju.
Dengan begitu semua akan tahu mengenai hal itu, dan radio radio bisa mempublikasikannya.”
Ahmad Soebardjo :”Baiklah, apa namanya kalau begitu? Bagaimana kalau “Piagam Jakarta?.”
Moh Hatta :”Nama yang bagus. Baiklah, apa isinya?
Kita harus cari isi yang mencakup segala hal yang kita perlu.”
Ir.Soekarno :”Baiklah. Mari kita mulai!”
Pada tanggal 22 Juni 1945 akhirnya piagam Jakarta pun disahkan dan akhirnya terjadinya sidang BPUPKI ke 2 pada tanggal 10 sampai 17 1945 untuk membahas dasar negara.
Ahmad Soebardjo :”Apa isi dari dasar negara kita ini?”
Dr.Soepomo :”Setiap dasar negara harus memiliki pembukaan , batang tubuh , penjelasan , dan penutup.”
Ir.Soekarno :”Apa isi pembukaannya?
Apakah kita harus membuatnya sendiri?”
Moh Hatta :”Kurasa kita membutuhkan banyak waktu untuk
membuat pembukaan, ada usul lain?”
Ahmad Soebarjo :”Kita membutuhkan cara yang lebih efektif.”
Dr.Soepomo :”Ya sudah kita gunakan Piagam Jakarta saja.”
Moh Yamin :”Ide yang bagus, itu kan bisa lebih efektif.”
Ir.Soekarno :”Tapi sepertinya bahasanya kurang formal.
Kita serahkan saja kepada panitia penghalus bahasa.”
Dr.Soepomo :”Ya, serahkan saja pada organisasi saya.”
Akhirnya diputuskanlah bahwa Piagam Jakarta menjadi pembukaan dari pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Pada tanggal 7 Agustus 1945 sebagai gantinya dibentuklah PPKI oleh Jepang untuk mempersiapkan perpindahan kekuasaan dari Jepang kepada Indonesia. Pembentukan ini karena pada tanggal 6 Agustus 1945 kota Nagasaki di bom oleh Sekutu. Dan pada tanggal 9 Agustus 1945 kota Hirosima di bom oleh Sekutu. Akhirnya pada tanggal 9 Agustus 1945 Ir.Soekarno, Moh.Hatta dan Dr.Radjiman Wedyodiningrat dipanggil oleh Jendral Terauchi untuk menghadap beliau di Dalat, Vietnam.
Jendral Terauchi :”Selamat pagi.”
Dr. Radjiman : “Pagi.”
Ir. Soekarno : “Ada apa memanggil kami?”
Jendral Terauchi :“Seperti yang saya dengar, di Indonesia telah dibentuk kepanitiaan persiapan kemerdekaan Indonesia, bukan?”
Moh. Hatta : “Ya, tepat sekali.”
Jendral Terauchi :”Saya, selaku dari pihak Jepang menyatakan setuju dan selamat atas terbentuknya panitia ini. Semoga, Indonesia bisa bekerja sama dengan Jepang pada kesempatan selanjutnya dalam keadaan merdeka.”
Ir. Soekarno :“Terima kasih.”
Jendral Terauchi :”Apakah kalian bersedia untuk menghabiskan malam kalian disini untuk makan malam bersama saya? Sembari membahas tentang terbentuknya kepanitiaan ini.”
Dr. Radjiman :“Sebetulnya, kami akan langsung pulang ke Jakarta untuk membahas kepanitiaan ini kepada anggota yang lainnya.”
Moh. Hatta :“Ah, Jiman. Apa salahnya menerima ajakan makan
malam dari Jendral Terauchi ini? Lagi pula, capek lah badanku ini. Kau juga kan, Soekarno?”
Ir. Soekarno :“Betul apa kata Hatta.
Capek lah tubuhku ini menempuh perjalanan sejauh ini. Tidak salah kita menerima ajakan silaturahmi ini.”
Moh. Hatta :”Jadi bagaimana, Man?”
Dr. Radjiman : “Baiklah.”
Jendral Terauchi, Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat makan malam bersama sembari membahas tentang terbentuknya PPKI ini.
Ketika Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyoningrat berada di Dalat, pasukan Sekutu kembali menjatuhkan bom atom di Nagasaki. Dan pada saat itu, Jepang sudah sangat lumpuh karena terus mendapat tekanan dari Sekutu.
Tentara Jepang 1 :”Aduh, galau ya. 2 kota besar kita telah luluh lantah di tangan para albino itu.”
Tentara Jepang 2 :”Ya. Siapa yang anda maksud albino? Para Sekutu?”
Tentara Jepang 1 :”Ya, tepat sekali. Bagaimana kekuasaan kita kepada Indonesia jika keadaan kita pun seperti ini?”
Tentara Jepang 2 :“Semoga saja tidak ada rakyat Indonesia yang mendengar berita tentang kekalahan kami ini.”
Tentara Jepang 1 :”Ayo, sebaiknya kita kembali bertugas.”
Dan pada akhirnya, Jepang pun lumpuh dan tidak berkutik. Akhirnya, pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Peristiwa penyerahan tanggal 14 Agustus 1945 itu dirahasiakan oleh Jepang. Hal itu dimaksudkan agar orang-orang di daerah pendudukan termasuk Indonesia tidak mengetahui peristiwa tersebut. Sekalipun dirahasiakan ternyata para pejuang kita terutama para pemuda dengan cepat mengetahuinya. Mereka yang mengetahui berita tersebut adalah para pemuda yang berjuang dan bergerak di bawah tanah. Salah satu tokohnya adalah Sutan Syahrir. Mereka sering mendengarkan berita-berita dari siaran radio luar Negeri. Oleh karena itu, dengan cepat mereka mengetahui berita penyerahan Jepang tersebut.
Sutan Syahrir sedang mendengarkan siaran radio BBC London
Tenno Heika :“Kembali lagi dengan saya, Haika dari BBC London. Berita terhangat saat ini, Perang Pasifik akhirnya menyisakan satu pemenang. Siapa kah itu? Tidak lain ia adalah para Sekutu. Kabar yang beredar di sana, Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu tadi di atas kapal USS Missouri milik Amerika. Dan daerah jajahan Jepang mengalami kekosongan pemerintahan. Sekian dari Heika.”
Sutan Syahrir :“Apaaaaa? Jepang kalah? Sumpeh lo? Sumpeh lo? Sumpeh lo?!” *berbicara kepada radio*
Sutan Syarir menelpon Chaerul Saleh
Sutan Syahrir :“Assalamualaikum, Bung!”
Chaerul Saleh :“Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatu. Ada apa Bung? Dari nada bicaranya sepertinya bahagia sekali!”
Sutan Syahrir :“Sudahkan anda mendengar siaran radio BBC London, tadi?”
Chaerul Saleh :“Tidak. Saya tidak mendengar siaran radio tadi. Saya sedang sibuk tadi.”
Sutan Syahrir :“Sibuk apa toh, Bung? Sibuk mengurus pacarmu, ya? Ada apa dengan pacarmu tho?”
Chaerul Saleh :“Wuah, ngaco tenan. Ada apa memangnya?”
Sutan Syahrir :“Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, Bung!”
Chaerul Saleh sujud syukur.
Sutan Syahrir :“Halo! Ul! Erul! Jawab, dong!”
Chaerul Saleh :“Kau nih, mengganggu saya sedang sujud syukur saja. Besok kita adakan rapat. Kita harus membahas ini secepatnya! Sekarang bisa, Bung? Ajak si Sukarni, Wikana, Darwis, dan lainnya!”
Sutan Syahrir :“Ya jangan sekarang juga sepertinya, Bung. Bagaimana kalau pukul setengah Sembilan malam saja?”
Chaerul Saleh :“Baiklah. Kita bertemu di ruangan Lembaga Bakteriologi di Jalan Pegangsaan Timur.”
Sutan Syahrir :”Siap, Bung laksanakan! Wassalamualaikum.”
Chaerul Saleh :“Waalaikumsalam.”
Ketika rapat di ruangan Lembaga Bakteriologi..
Chaerul Saleh :“Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu rekan-rekan semua. Maaf mengganggu kalian di malam yang indah ini.”
Semua :“Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatu.”
Wikana :“Tidak mengenal waktu demi Negara kita ini, Bung!”
Darwis :“Apa yang tidak bisa kita lakukan demi Indonesia?”
Sutan Syahrir :“Betul sekali kawan-kawan. Sampai Bung Chaerul pun rela tidak mengapeli kekasihnya demi Negara kita.”
Chaerul Saleh :“Apalah kau ini, Bung?
Mari kita kembali kepada jalan yang lurus. Bagaimana menurut kawan-kawan sekalian mengenai berita kekalahan Jepang ini?”
Darwis :“Menurut saya, kita tidak boleh membuang-buang waktu. Kita harus segera melaporkan kepada Bung Karno mengenai ini. Siapa yang setuju dengan saya?”
Sutan Syahrir :“Saya sangat setuju. Kemerdekaan ini adalah hak kita sendiri, hak rakyat Indonesia. Namun segala ikatan, hubungan, dan janji kemerdekaan inipun harus diputus dan perlunya berunding dengan Bung Karno beserta Bung Hatta agar kita ikut terlibat menyatakan proklamasi.”
Sukarni :”Tepat sekali . Kalau begitu, kita harus membagi tugas. Wikana dan Darwis, kalian harus pergi ke kediaman Soekarno untuk menyampaikan kabar ini. Saya dan Bung Chaerul akan memerintahkan anggota pemuda lainnya untuk merebut kekuasaan dari Jepang.”
Chaerul Saleh :“Betul juga apa kata kau. Bagaimana dengan anda, Wikana?”
Wikana :“Wong semua yang mau saya katakan sudah dibilang duluan sama mereka berdua.”
Semua peserta rapat melotot kepada Wikana.
Wikana menyengirkan giginya.
Wikana :“Tapi apa tidak terlalu terburu-buru jika kita tidak membahasnya pada rapat PPKI terlebih dahulu?”
Chaerul Saleh :“Begini yo, Bung Wika. Anda tahu kan PPKI bentukan Jepang? Apa anda mau kita merdeka karena belas kasihan Jepang? Lalu, untuk apa kita mengadakan pertemuan secepat ini?”
Sutan Syahrir :“Ya, betul. Lalu, siapa yang akan menghadap kepada Bung Karno?”
Chaerul Saleh :“Apakah ada yang bersedia?”
Darwis :“Saya siap menghadap Bung Karno. Demi Indonesia merdeka!”
Wikana :“Jangan lupakan aku toh, Wis. Kita kan sahabat bagaikan kepompong. *menyenggol Darwis* Saya juga bersedia demi nama Indonesia, Bung!”
Chaerul Saleh :“Baik, rapat ini saya tutup. Mari…”
Sutan Syahrir memotong pembicaraan.
Sutan Syahrir :”Bung, sepertinya kau tidak kuat sekali ya jauh-jauh sebentar dengan kekasihmu itu. Rapat ini singkat sekali. Kangen dengan kekasihmu itu, yo?”
Chaerul Saleh :“Apa, Bung? Justru pertemuan singkat padat dan jelas ini yang harusnya kita laksanakan. Agar WIkana dan Darwis bisa secepatnya menemui Bung Karno dan Bung Hatta.”
Sutan Syahrir :“Wuah alasanmu bisa saja, Bung.”
Chaerul Saleh : *Tersenyum malu* “Baik kita akhiri pertemuan ini, Wassalamualaikum warrahmatulahi wabarakatu.”
Semua :“Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatu.”
Rapat Bubar.
Wikana :“Darwis, ayo kita temui Bung Karno dan Bung Hatta.”
Darwis :“Coba tolong kau hubungin Bung Karno dulu.”
Wikana menelpon Soekarno.
Wikana :“Assalamualaikum, Bung Karno!
Apakah sudah sampai ke Indonesia?”
Ir. Soekarno :“Waalaikumsalam.
Alhamdulillah saya dan yang lainnya sudah sampai di Indonesia dengan selamat.”
Wikana :“Dimana posisi Bung Karno sekarang?”
Ir. Soekarno :“Saya sedang di rumah dengan Bung Hatta.”
Wikana :“Apakah saya dan Darwis bisa menemui anda?”
Ir. Soekarno :“Tentu saja saya bisa jika berhubungan dengan
Indonesia.”
Wikana :“Baik, assalamualaikum.”
Ir. Soekarno :“Waalaikumsalam.”
Wikana dan Darwis tiba di rumah Soekarno.
Wikana, Darwis :”Assalamualaikum.”
Ir. Soekarno :“Waalaikumsalam. Mari sini, duduk dengan kami.”
Darwis :”Iya. Maaf mengganggu lho.”
Ir. Soekarno :”Oh ya tidak masalah. Buuu, tolong buatkan teh manis empat gelas ya. Kita kedatangan para pejuang muda kita, nih!”
Fatmawati :”Oh iya mas. Tunggu, yo.”
Moh. Hatta :“By the way, ada apa gerangan selarut ini datang?”
Darwis :“Sudahkah anda mendengar berita kekalahan Jepang
Dari Sekutu?”
Ir. Soekarno :”Ya, kami telah mendengar berita itu. Lantas ada apa?”
Fatmawati :”Assalamualaikum, ini teh nya.”
Wikana :”Terima kasih, bu.”
Fatmawati :”Sama-sama. Pak, kalau sudah selesai rapatnya jangan lupa matikan lampunya ya, Ibu mau tidur duluan.”
Ir. Soekarno :”Baik.”
Darwis :”Kita harus memproklamirkan kemerdekaan sekarang juga, Bung!”
Ir. Soekarno tersedak.
Ir. Soekarno :”Ya tidak bisa semudah itu.”
Darwis :”Lah, memangnya ada apa?”
Ir. Soekarno :”Anda fikir, memproklamirkan kemerdekaan semudah membalikkan telapak tangan anda sendiri? Tidak! Semua ini membutuhkan proses, Bung! Kita tidak bisa seenaknya saja bertindak tanpa dibicarakan kepada seluruh anggota PPKI.”
Wikana :”Tuh kan, apa ku bilang Wis.”
Darwis :”Diam kau. Apa kau tidak ingin kita merdeka secepatnya? Apa kau lupa dengan apa yang telah kita bicarakan pada rapat?”
Wikana :”Betul juga apa kata kau.”
Wikana :” Tapi ini saat yang tepat, Bung. Jepang sudah kalah oleh Sekutu dan tak ada kuasa lagi di negeri ini. Mengapa harus menunggu? Rakyat sudah banyak menderita akibat penjajahan yang sangat menyayatkan raga dan jiwa kami ini.”
Moh, Hatta :” Jepang adalah masa yang silam. Belum lagi kita harus menghadapi Belanda yang hendak kembali berkuasa di negeri ini. Jika Saudara tidak setuju dengan apa yang saya katakan, dan mengira diri Saudara telah sanggup menopang kekuatan sendiri, Mengapa datang pada Soekarno dan memintanya untuk memproklamirkan kemerdekaan?”
Darwis :”Apakah kita harus menunggu janji Jepang untuk memerdekakan bangsa ini? Kita bisa, Bung . Kita harus bangkit dan memproklamirkan kemerdekaan sendiri. Mengapa harus menunggu janji manis itu? Jepang sendiri bahkan telah kalah dalam “Perang Suci” nya!”
Ir, Soekarno :”Kekuatan segelintir ini takkan mampu mengalahkan armada perang milik Jepang! Coba kau perlihatkan padaku, mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu? Apa tindakanmu untuk menyelamatkan wanita dan anak-anak jika ternyata terjadi pertumpahan darah? Bagaimana cara kita nanti untuk mempertahankan kemerdekaan? Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri.”
Wikana :”Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman itu malam ini juga, besok akan terjadi pembunuhan dan pertumpahan darah.”
Ir. Soekarno :”Ini leher saya. Seretlah saya ke pojok itu, dan sudahilah nyawa ini juga. Jangan menunggu besok.”
Darwis :”Tapi semakin cepat kita memproklamasikan kemerdekaan akan semakin cepat pula kita mengakhiri penderitaan rakyat yang sudah ditanggung selama ini. Inilah yang sudah ditunggu-tunggu bangsa kita, Bung.”
Moh. Hatta :”Baiklah. Tapi berikan kami waktu untuk berunding sebentar.”
Wikana :”Baiklah kalau begitu saya dan Darwis harus berpamitan dulu. Terima kasih atas waktunya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.”
Soekarno, Hatta :”Waalaikumsalam warrahmatulahi wabarakatu.”
Darwis menelpon Chaerul Saleh.
Darwis :”Assalamualaikum.”
Chaerul Saleh :”Waalaikumsalam warahmatullaho wabarakatu.”
Darwis :”Bung Karno dan Bung Hatta masih kekeuh untuk
membahas tentang proklamasi kemerdekaan ini di depan para anggota PPKI.”
Chaerul Saleh :”Oalah. Sekarang kau kumpulkan semua para anggota rapat. Kita adakan rapat sekarang juga di asrama Baperpi, di Jalan Cikini Nomor 71.”
Darwis :”Siap, laksanakan! Wassalamualaikum.”
Chaerul Saleh :”Waalaikumsalam.”
Ketika pertemuan para golongan tua di rumah Ir. Soekarno..
Moh. Hatta :”Bagaimana ini? Para pemuda menuntut untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.”
Ir. Soekarno :”Tapi kita tidak boleh gegabah, Bung. Kita butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya dengan matang agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”
Ahmad Soebarjo :”Saya setuju. Menurut saya, yang terpenting sekarang adalah menghadapi Sekutu yang hendak berniat kembali berkuasa di negeri ini. Selain itu, masalah kemerdekaan sebaiknya dibicarakan lagi dalam sidang PPKI 18 Agustus mendatang.”
Moh. Hatta :”Lalu bagaimana dengan pendapat golongan muda? Apa kita abaikan saja?”
Soekarno :”Lagipula mereka masih muda, pemikiran mereka terlalu pendek. Kita harus melihat ke depan, mempersiapkannya dengan matang. Jika tidak, bagaimana nanti jika semuanya berantakan?”
Ahmad Soebarjo :”Baiklah, Bung. Berarti kita semua sudah sepakat.”
Rapat antara golongan tua berakhir.
Rapat antara golongan muda berlangsung..
Chaerul Saleh :”Bagaimana pendapat para golongan tua, Bung?”
Wikana :”Mereka masih kekeuh untuk tidak terburu-buru dalam memproklamirkan kemerdekaan ini.”
Sukarni :”Lantas kapan waktu yang tepat? Justru inilah kesempatan emas kita!”
Darwis :”Mereka bersikukuh untuk mengadakan rapat terlebih dahulu dengan para anggota PPKI.”
Wikana :”Dan Bung Hatta mengatakan kepada saya bahwa Jika saya tidak setuju dengan apa yang mereka katakan, dan mengira diri saya telah sanggup menopang kekuatan sendiri, Mengapa datang pada Soekarno dan memintanya untuk memproklamirkan kemerdekaan?”
Sutan Syahrir :”Apa kita harus memproklamirkan kemerdekaan kita tanpa mereka?”
Sukarni :”Tidak bisa! Orang yang paling tepat itu hanyakan Bung Karno dan Bung Hatta.”
Chaerul Saleh :”Saya setuju dengan apa yang Bung Karni katakan. Dengan pendapat kita yang bertolak belakang dengan pendapat mereka, bagaimana jika kita mengadakan pertemuan yang tertutup dengan mereka?”
Sutan Syahrir :”Semacam penculikan, gitu?”
Chaerul Saleh :”Tepat sekali.”
Sukarni :”Saya mempunyai usul, bagaimana kalau kita mengamankan ia ke tempat yang terpencil? Sepertinya Rengasdengklok sangat tepat.”
Darwis :”Saya juga sangat setuju. Selain Rengasdengklok tempatnya terpencil, juga disana tempat latihan para anggota PETA yang akan dapat dilakukan deteksi dengan mudah setiap gerakan tentara Jepang.”
Chaerul Saleh :”Ide brilliant! Bagaimana pendapatmu, Bung Wika?”
Wikana :”Yang saya bingung itu, kenapa kita harus menculik Bung Karno? Saya takut kena kutukan. Saya takut pamali. Saya takut durhaka menculik orang tua.”
Darwis :”Aduh, Wik..Wik.. ini kan demi negara kita juga, tidak ada hubungannya sama sekali dengan durhaka dan kutukan.”
Wikana :”Iya tapi mengapa harus diculik kalau kita tidak bisa berbicara baik-baik dari hati ke hati bersama Mamah Dedeh? Eh, maksud saya dengan Bung Karno.”
Semua peserta rapat melotot kepada Wikana.
Chaerul Saleh :”Begini ya, anda kan tadi datang sendiri ke Bung Karno bukan? Anda juga sudah berbicara dari hati ke hati, bukan? Lalu apa yang anda tangkap? Penolakan, kan?”
Wikana :”Betul juga ya. Kenapa harus diculik?”
Sukarni :”Ya agar para golongan tua tidak terpengaruh Jepang, lah.”
Chaerul Saleh :”Lalu siapa yang bersedia mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok?”
Sukarni :”Saya bersedia.”
Darwis :”Saya juga bersedia.”
Sutan Syahrir :”Saya pun bersedia. Bagaimana jika kita membawanya ke Rengasdengklok pada subuh saja?”
Chaerul Saleh :”Ide bagus. Tempat sudah kita tentukan, waktu nya juga. Baik, rapat ini saya bubarkan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.”
Semua :”Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu.”
Tanggal 16 Agustus 1945 Pukul 04.00 WIB, kediaman Ir. Soekarno.
Sutan Syahrir :” Assalamualaikum.”
Moh. Hatta :” Waalaikumsalam. Ada apa Saudara datang sepagi ini?”
Sukarni :”Kami bermaksud membawa Anda dan Soekarno untuk ikut kami menuju tempat pengasingan.”
Ir. Soekarno :”Tempat pengasingan? Apa yang Saudara maksudkan?”
Sutan Syahrir :”Ya, kami akan membawa kalian untuk diasingkan agar terhindar dari ancaman bentrok antara rakyat dan Jepang.”
Moh. Hatta :”Baik, kami akan ikut.”
Sukarni :”Sebaiknya Ibu Fatmawati dan anak Anda turut serta, Bung. Untuk menjamin keselamatan mereka.”
Ir. Soekarno :”Baiklah, saya akan mengajak mereka.”
Hilangnya Soekarno dan Moh. Hatta secara misterius pagi itu, menimbulkan kepanikan di kalangan para pemimpin di Jakarta. Peristiwa ini baru diketahui oleh Mr. Ahmad Soebardjo pukul 08.00 pagi.
Ahmad Soebarjo :”Apakah Saudara tahu keberadaan Soekarno dan Bung Hatta?”
Wikana :”Maaf. Saya tidak tahu, Bung.”
Ahmad Soebarjo :”Katakanlah kepadaku dimana mereka sekarang. Dan aku akan menjamin keselamatan mereka ketika kembali ke Jakarta. Dan aku akan menjamin kemerdekaan untuk kalian esok harinya.”
Yusuf Kunto :”Apa anda berjanji dengan ucapan anda?”
Ahmad Soebarjo :”Ya, saya bersumpah. Tapi tolong bantu agar mereka dapat kembali ke Jakarta. Saya berjanji bahwa proklamasi Indonesia akan dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945. Jika proklamasi tidak dikumandangkan hingga pukul 12 siang, nyawa saya akan menjadi jaminan.”
Wikana :”Bagaimana?”
Yusuf Kunto :”Janjinya sangat meyakinkan.”
Wikana :”Bawalah ia sekarang juga.”
Yusuf Kunto :”Baiklah, saya akan mengantarkan anda. Tempatnya di Rengasdengklok.”
Sementara itu di Rengasdengklok.
Soekarno :”Nah, jelaskan sekarang mengapa Saudara sekalian membawa kami kesini.”
Sutan Syahrir :”Maafkan kelancangan kami, Bung . Ini demi keselamatan Anda.”
Sukarni :”Kami ingin membahas kembali tentang proklamasi.”
Moh. Hatta :”Bukankah tempo hari sudah kami katakan kepada kalian, masalah kemerdekaan masih akan dibicarakan dalam sidang PPKI?”
Sutan Syahrir :”Memang benar adanya. Tetapi, kami semua berpendapat, Mengapa menunggu untuk di merdekakan oleh Jepang? Mengapa menunggu hasil sidang PPKI, kalau kita bisa bergerak dengan kekuatan sendiri? PPKI itu bentukan Jepang, Bung. Kami ingin memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan dari Jepang.”
Soekarno :”Pendapat itu benar. Namun, kita masih terlalu dini untuk memproklamasikan kemerdekaan. Selain itu kita belum siap dan masih membutuhkan bantuan dari Jepang untuk merdeka.”
Sukarni :”Bagaimana bila perkataan Jepang tentang kemerdekaan bangsa kita hanya janji manis belaka? Bagaimana jika jepang hanya memberi harapan palsu? Apa yang akan Anda lakukan?
Darwis :”Apakah akan selamanya menunggu janji itu, Bung? Kita harus memproklamasikan kemerdekaan sekarang juga, demi rakyat yang sudah bertahun-tahun terbelenggu oleh penjajahan di Tanah Air mereka sendiri! Mereka berhak bebas, dan sekaranglah saatnya!”
S. Singgih :“Tenang Saudara sekalian. Mari bicarakan semuanya dengan kepala dingin, tidak perlu ada ketegangan, ok?”
Syodanco Singgih membawa Soekarno dan Moh. Hatta menjauh dari perdebatan itu, kemudian mereka berunding.
S. Singgih :”Saya mengerti perhitungan Anda berdua mengenai
masalah proklamasi ini, kita memang belum mempertimbangkan semuanya dengan matang. Tapi saya percaya, kita dapat bangkit dan memanfaatkan situasi ini. Kesempatan tidak akan datang dua kali, Bung. Apa yang mereka katakan benar adanya dan saya mendukung mereka.”
Moh. Hatta :”Tetapi, apakah kita bisa?Akankah ini semua mungkin dilakukan?”
S. Singgih :”Tentu mungkin, Bung . Asal kita berusaha tentu akan kita temukan jalan keluarnya. Lagipula, para pemuda di Jakarta sedang menyusun strategi pertahanan untuk mencegah serangan dari Jepang ataupun sekutu yang tidak menerima proklamasi bangsa kita.”
Soekarno :”Baiklah, saya setuju. Kita akan memproklamasikan kemerdekaan tanpa ada campur tangan Jepang.”
Pada pukul 17.30 WIB , rombongan dari Jakarta tiba di Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Moh. Hatta.
Ahmad Soebarjo:”Syukurlah kalian semua baik-baik saja.
Jadi bagaimana keputusannya?”
Moh. Hatta :”Kami setuju kemerdekaan akan dilaksanakan tanpa campur tangan Jepang.”
Ahmad Soebarjo:” Lalu, Kapan kita akan melaksanakannya?
Menurut saya, bagaimana jika besok? Pasukan pemuda di Jakarta sudah bersiap.”
Soekarno :”Jika mungkin, kita akan melaksanakannya esok pagi.”
Selesailah perundingan di Rengasdengklok. Semua anggota golongan tua maupun muda kembali ke Jakarta untuk membahas lanjut rencana proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.
Malam hari sekitar pukul 23.00 tanggal 16 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta beserta rombongan tiba di Jakarta. Setelah mengantarkan pulang Ibu Fatmawati dan Guntur, Bung Karno dan kawan-kawan pergi ke rumah laksamana Maeda untuk merumuskan naskah proklamasi. Namun, sebelum mengadakan pertemuan di rumah Laksamana Maeda, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta terlebih dahulu menemui Mayor Jendral Nishimura untuk menanyakan pendapat dan sikapnya tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Ir. Soekarno :”Selamat malam, Jendral.”
Nishimura :”Malam.”
Ir. Soekarno :”Jadi begini, kami dari pihak Indonesia telah menyatakan siap merdeka.”
Nishimura :”Lantas?”
Moh. Hatta :”Lantas kita meminta pendapat Jendral mengenai kemerdekaan Indonesia.”
Nishimura :”Ya, saya sebagai pihak dari Jepang tidak bertanggung jawab dengan peristiwa ini. Kami menyerahkan semuanya kepada anda berdua.”
Ir. Soekarno :”Baik, terima kasih. Selamat malam.”
Nishimura :”Malam.”
Mengetahui sikap pimpinan Jepang, mereka segera mengadakan pertemuan di rumah Laksamana Maeda.
Ahmad Soebarjo: *mengetuk pintu*
Maeda :”Selamat malam. Ada apa, Bung?”
Ahmad Soebarjo:” Maaf kami mengganggu anda malam-malam begini.
Kami perlu tempat untuk membicarakan rencana kemerdekaan yang akan dilangsungkan esok hari.”
Maeda :”Benarkah itu? Kalau begitu, masuklah. Saya turut gembira mendengar kabar ini . Silakan gunakan ruangan yang kalian butuhkan. Saya akan pergi istirahat dulu.”
Sukarni :”Terima kasih, Pak Perwira.”
Perumusan Teks Proklamasi dilakukan di rumah makan Maeda.
Ahmad Soebarjo :”Bagaimana dengan pertemuan tadi?”
Ir. Soekarno :”Ia mengatakan bahwa semua diserahkan pada kami berdua.”
Sukarni :”Baik, bisa kita mulai sekarang?”
Ir. Soekarno :”Tentu. Apakah ada yang ingin menyumbangkan aspirasi?”
Ahmad Soebarjo:”Saya ingin menyumbangkan kalimat pertama. Begini, “kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia” Bagaimana?”
Ir. Soekarno :”Baik, kita akan menggunakan kalimat itu untuk kalimat pertama. Saya akan menyumbangkan aspirasi saya untuk kalimat kedua, begini “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara yang secermat-cermatnya serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.” Bagaimana?”
Moh. Hatta :”Bagus juga, kalimat pertama mencerminkan kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Lalu, diakhiri kalimat penutup yang memang diperlukan mengenai pemindahan kekuasaan. Tapi alangkah baiknya jika kita menyempurnakan kalimat kedua?”
Ir. Soekarno :”Menjadi seperti apa?”
Moh. Hatta :”Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya.”
Ir. Soekarno :”Baik, kita akan menggunakan kalimat penutup seperti apa yang Bung Hatta katakan. Saya akan menulis naskah ini lalu akan saya bacakan di depan yang lainnya.”
Pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB, dibacakanlah rumusan naskah proklamasi untuk yang pertama kalinya di depan para hadirin yang berada di rumah Maeda yang langsung disetujui. Namun kemudian timbullah persoalan tentang siapa saja yang akan menandatangani naskah proklamasi.
Ir. Soekarno :”Kami, bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekuasan dan lain-lain, diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-08-05
Wakil-Wakil Bangsa Indonesia”
Ir. Soekarno :”Bagaimana? Apa ada yang tidak setuju? Atau ingin mengeluarkan aspirasinya?”
Sukarni :”Saya ingin mengemukakan pendapat, Bung. Menurut saya, ada beberapa kata-kata yang harus diubah.”
Ahmad Soebarjo :”Apa yang harus diubah?”
Sukarni :”Dalam konsep yang telah saudara sampaikan, terdapat beberapa keganjilan. Menurut saya, kata tempoh bisa kita ganti dengan tempo.”
Ir. Soekarno :”Baik, saya terima. Lalu?”
Sukarni :”Begitu pula dalam tulisan Djakarta, 17-08-05 sepertinya akan menjadi lebih jelas jika diubah menjadi Djakarta, 17 boelan 8 tahun ’05.”
Moh. Hatta :”Ide yang bagus. Ada lagi?”
Sukarni :”Satu lagi. Kalimat “wakil-wakil bangsa Indonesia” baiknya diganti menjadi “Atas nama bangsa Indonesia.”
Ir. Soekarno :”Bagus, bagus. Ide kami terima. Setelah ini saya mohon untuk seluruh orang yang hadir menandatangani naskah proklamasi ini atas nama bangsa Indonesia.”
B.M Diah :”Saya tidak setuju. Menurut saya, kami dari golongan pemudalah yang mewakili rakyat sehingga berhak menandatangani naskah ini, sedangkan PPKI hanya wakil pihak Jepang. Saya tidak setuju!”
Moh. Hatta :”Lah terus mau sampeyan apa? PPKI juga mempunyai andil disini, Bung Karno dan saya juga merupakan bagian dari PPKI.”
Sukarni :”sudah-sudah, daripada membuat keributan. Cukup Soekarno-Hatta yang menandatangani naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia atas nama bangsa Indonesia.”
B.M Diah :”Kalau begitu, saya baru setuju. Hehehe.”
Ir. Soekarno :”Baik saya juga setuju. Sayuti, tolong ketik naskah ini agar pada esok hari bisa siap untuk dibacakan.”
Sayuti Melik :”Siap, laksanakan!”
Ahmad Soebarjo:”Kapan dan dimana kita bisa memproklamasikan kemerdekaan kita ini?”
Moh. Hatta :”Bagaimana jika di Lapangan Ikada? Pukul 10 pagi?”
Ahmad Soebarjo:”Ya, saya setuju. Karena jika lebih dari jam 12 siang nyawa saya bisa melayang nih. Hehehe.”
Sayuti Melik pun mengetik teks tersebut. Semua persiapan proklamasi rampung pada pukul 04.30 WIB. Lalu, semua hadirin pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira. Kemudian para pemuda mengirimkan kurir-kurir untuk menyampaikan bahwa saat proklamasi telah tiba. Mereka juga mengatur pelaksanaan penyiaran berita proklamasi kemerdekaan. Menyebarkan beberapa pamfleet ke penjuru Jakarta dan sekitarnya. Pengeras suara diusahakan adanya. Semua dilakukan agar rakyat dapat turut menyaksikan momen paling berharga untuk bangsa Indonesia.
Pada saat yang sama, Soekarno dan Ibu Fatmawati sampai di kediaman mereka dan berbincang sejenak.
Soekarno :”Alhamdulillah akhirnya semua berjalan lancar.
Terimakasih ibu telah menemani saya di saat-saat yang
cukup menguras pikiran ini.”
Fatmawati :”Iya, terimakasih Gusti Allah yang telah memberikan
jalan pada bangsa kita untuk memproklamasikan
kemerdekaan. Oh iya pak, apakah kalian sudah
merencanakan bagaimana proklamasi besok akan
berlangsung?”
Soekarno :”Sudah, kita akan melaksanakan upacara bendera.
yang nanti akan di iringi lagu Indonesia Raya karya
Bung Supratman.”
Fatmawati :”Bukankah kita belum memiliki bendera? Lantas
bagaimana?”
Soekarno :”Astaghfirullah. Bapak sampai lupa, bagaimana kalau
ibu saja yang menjahit benderanya?”
Fatmawati :”Baiklah, Pak. Dan, Ibu punya ide. Kita namakan saja
bendera nya “Sang Saka Merah Putih”. Bagaimana?”
Soekarno :”Ide yang bagus. Ya, bendera pusaka “Sang Saka” dan
warna nya merah putih , menjadi “Sang Saka Merah
Putih”, Brilian!”
Fatmawati :”Ya sudah, sebaiknya Bapak bersiap sana. Menyusun
pidato yang nanti akan bapak bacakan.”
Tibalah saatnya, saat-saat dimana dikumandangkannya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Dan tibalah saat nya dimana lahirnya sebuah negara yang kita banggakan.. Indonesia! Namun terjadi hambatan ketika akan berlangsungnya acara ini.
Sutan Syahrir tiba di lapangan Ikada.
Tentara Jepang 1:”Bagaimana? Amankah?”
Tentara Jepang 2:”Untuk saat ini bisa kita katakan aman, para
masyarakat Indonesia belum datang kemari.”
Sutan Syahrir kembali ke rumah Ir. Soekarno.
Sutan Syahrir :”Bung, gawat sekali!”
Ir. Soekarno :”Ada apa?”
Sutan Syahrir :”Para tentara Jepang sudah siaga di lapangan Ikada. Saya khawatir akan terjadinya pertumpahan darah jika kita masih nekat melaksanakan proklamasi disana.”
Ir. Soekarno :”Baik, hubungi semuanya. Beritahu semuanya bahwa lokasi proklamasi berpindah ke depan rumah saya.”
Sutan Syahrir :”Baik!”
Sutan Syahrir akhirnya memberitahukan informasi ini kepada seluruh jajaran, dan akhirnya lokasi proklamasi dipindahkan ke Jalan Pegangsaan Timur no. 56, Jakarta.
Sesaat sebelum upacara dimulai…
Soekarno :”Trimurti, tolong Anda kibarkan bendera Merah Putih
ini sebagai tanda awal kejayaan bangsa ini.”
(sambil menyerahkan bendera)
Trimurti :”Siap, Bung. Saya akan menyuruh anak didik saya
untuk mengibarkannya”. Suhud! Latief! Hei, kalian!
Jaga baik-baik bendera ini. Kalian mendapat
kehormatan untuk mengibarkan bendera ini untuk
pertama kalinya dalam sejarah Indonesia.”
Latief, Suhud :”Siap, Komandan! Kami tak akan mengecewakan.”
Tiba saatnya Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia…
Tokoh-tokoh pejuang Indonesia telah hadir di lokasi. Di antaranya yaitu Mr. AA. Maramis, HOS Cokroaminoto, Otto Iskandardinata, Ki Hajar Dewantara, M. Tabrani dll.
Suasana menjadi sangat hening. Soekarno dan Hatta dipersilahkan maju beberapa langkah dari tempatnya semula. Soekarno mendekati mikrofon. Dengan suaranya yang lantang dan mantap, Soekarno pun membacakan pidato pendahuluan sebelum beliau membacakan teks proklamasi.
Soekarno :” Saudara-saudara sekalian ! Saya telah minta Saudara hadir disini, untuk menyaksikan peristiwa maha penting dalam sejarah bangsa kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang umtuk merdeka. Bahkan telah beratus-ratus tahun lamanya, gelombang aksi kita tidak putus dalam berjuang untuk memerdekakan negeri ini. Kita jatuh bangun menyusun kekuatan untuk menggapai cita-cita Indonesia bebas dari penjajahan bangsa lain. Semalam, kami para pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari berbagai penjuru bergabung untuk memusyawarahkan dan permusyawaratan itu seiya-sekata berkata : inilah saatnya bagi kita untuk mengobarkan api revolusi kemerdekaan Indonesia. Saudara sekalian ! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami :
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya
Djakarta, hari 17 bulan 8 tahun 45
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno-Hatta
Demikianlah, saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia, merdeka kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita.”
Soekarno :”Sekarang tibalah saatnya pengibaran bendera yang kita banggakan, Sang Saka Merah Putih!”
Pengibaran Bendera merah putih oleh Suhud dan Latief Hendradiningrat secara spontan mengundang peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Upacara pun berakhir. Dan bangsa Indonesia telah merdeka dan bebas dari penjajahan asing. Memang sungguh akhir yang bahagia.
Komentar
Posting Komentar
Tulis komentar yang penting-penting aja. Kalau bisa jangan sosoan ngelucu atau pinter di blog saya. Nanti malu sendiri loh.